Penjelasan Tentang Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif Lengkap

Penjelasan Tentang Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dan Disosiatif Lengkap

Seorang ahli bernama gilin menjelaskan bahwa terdapat dua macam proses sosial yang muncul sebagai dampak atau akibat dari adanya interaksi sosial. Dua proses tersebut diantarana ialah proses asosiatif/bersekutu (processes of association) dan proses disosiatif/memisahkan (processes of dissociation). 

Pengertian Interaksi Sosial Asosiatif dan Dissosiatif

Proses interaksi sosial asosiatif merupakan sebuah proses menuju terwujudnya integrasi interaksi sosial. Sedangkan interaksi sosial disosiatif merupakan proses oposisi atau oppositional process yang bermaknakan perlawanan terhadap individu ataupun sekelompok orang guna meraih visi ataupun tujuan tertentu. Penjelasan selengkapnya adalah sebagaimana berikut ini!

A. Interaksi Sosial Asosiatif

Interaksi sosial menurut tinjauan asosiatif mempunyai sifat positif yang berarti saling menunjang antara individu dengan kelompok dalam meraih tujuan. Proses asosiatif dapat berupa beragam bentuk seperti misalnya sebagai berikut :

1) Kerja Sama (Cooperation)

Kerja sama merupakan sebuah upaya bersama antara individu dengan kelompok guna meraih kepentingan serta tujuan yang sama. Kerja sama berorientasi pada korelasi atau hubungan antara individu dengan kelompok dengan berfokus pada aktivitas yang dilakukan. Misalnya saja dalam membersihkan area sekolah dibutuhkan kerja sama antara siswa, para guru, dan civitas sekolah secara bergotong royong. Bentuk-bentuk kerja sama dapat berupa :

  • Gotong royong

Gotong royong adalah bentuk kerja sama yang dikerjakan secara sukarela dalam rangka mengerjakan segala sesuatu hal secara bersama-sama.

  • Bargaining

Bargaining merupakan sebuah aktivitas perjanjian pertukaran barang atau jasa antar lembaga ataupun organisasi.

  • Kooptasi

Kooptasi merupakan prosedur penerimaan berbagai unsur-unsur baru dalam sebuah organisasi secara prosedural guna mengantisipasi adanya konflik yang mungkin terjadi.

  • Koalisi

Koalisi merupakan sebuah kombinasi yang dikerjakan dari dua ataupun lebih lembaga / organisasi yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi menghasilkan kondisi ataupun keadaan tak stabil dikarenakan ke-2 organisasi mempunyai struktur secara otonom.

  • Joint-Venture

Joint – Venture merupakan sebuah bentuk kerja sama di dalam perusahaan proyek khusus seperti halnya penggalian tanah, pengeboran sumur, pembangunan jembatan, dan lain sebagainya.

2. Akomodasi (Accomodation)

Akomodasi merupakan sebuah proses serta upaya dalam menyesuaikan diri bagi individu kepada sebuah kelompok untuk mencegah terjadinya konflik. Akomodasi memiliki makna adanya keseimbangan interaksi sosial dengan norma serta nilai yang terdapat di dalam masyarakat. Akomodasi merupakan salah satu konsep yang baik dalam rangka menyelesaikan pertentangan atau konflik baik dengan cara persuasif ataupun refresif. Bentuk-bentuk dari akomodasi diantaranya ialah sebagaimana berikut :

  • Koersi, bentuk akomodasi yang berlangsung karena adanya paksaan atau dominasi kehendak suatu pihak terhadap pihak lainnya yang lebih lemah.
  • Kompromi, merupakan sebuah bentuk dari akomodasi dimana terdapat beberapa pihak terlibat perselisihan dengan upaya pencarian jalan tengah sebagai solusi pereda konflik.
  • Arbitrase, merupakan sebuah bentuk akomodasi yang terjadi jika terdapat beberapa pihak yang saling berselisih tidak mampu mencapai kesepahaman. Karenanya diperlukan hadirnya pihak ke-tiga untuk menengahi masalah diantara keduanya.
  • Mediasi, ialah pihak ketiga yang berperan sebagai juru damai, penengah, atau peredam konflik bagi dua pihak yang berselisih.
  • Konsiliasi, adalah sebuah usaha dalam mempertemukan keinginan dari berbagai pihak yang saling berselisih guna mencapai jalan tengah untuk mengintegrasikan keinginan bersama.

3. Asimilasi (Assimilastion)

Asimilasi merupakan sebuah upaya dalam meminimalisasi perbedaan antarindividu ataupun kelompok untuk meraih kesepakatan yang didasarkan pada kepentingan, tujuan, serta visi bersama. Koentjaraningrat mengatakan bahwa prosedur asimilasi akan muncul apabila terdapat beberapa kelompok yang memiliki perbedaan kebudayaan. Selanjutnya, berbagai individu di dalam kelompok tersebut saling melakukan interaksi secara langsung dan berkesinambungan dalam jangka waktu yang cukup lama sampai masing-masing saling menyesuaikan diri. Di dalam asimilasi, terdapat proses identifikasi diri dengan berbagai kepentingan serta tujuan kelompok. Jika kelompok-kelompok atau antara individu dengan individu lainnya melakukan asimilasi, maka batas antar-kelompok lambat laun semakin menghilang dan melebur menjadi sebuah kelompok yang baru.

4) Akulturasi (Aculturation)

Akulturasi merupakan sebuah proses penerimaan serta pengintegrasian berbagai unsur kebudayaan asing sehingga menjadi bagian dari kultur sebuah kelompok, tanpa mengeliminasi kepribadian kebudayaan asli. Akulturasi adalah hasil dari pencampuran antar budaya yang berbeda dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya saja musik melayu dari nusantara mengalami akulturasi dengan musik portugis pada masa penjajahan melahirkan nuansa musik baru yakni keroncong.

5) Paternalisme

Paternalisme ialah dominasi kelompok pendatang terhadap pribumi. Paternalisme dicontohkan dengan adanya penjajahan oleh bangsa asing kepada bangsa pribumi. Bangsa pendatang yang menjajah mendominasi seluruh sumber daya, sehingga bangsa pribumi lebih sering mengalami penindasan. Di era modern saat ini, penjajahan secara pertahanan dan politik tidak lagi menjadi tren, melainkan penjajahan dalam bidang ekonomi, permodalan, kesehatan, dan lain sebagainya.

B. Interaksi Sosial Disosiatif

Interaksi sosial disosiatif adalah interaksi yang bertentangan dengan kelompok atau individu guna meraih tujuan. Interaksi sosial disosiatif digolongkan ke dalam berbagai macam bentuk, diantaranya adalah sebagaimana berikut ini!

1) Persaingan (Competition)

Persaingan adalah sebuah proses sosial manakala terdapat pihak-pihak ataupun lebih yang saling berlomba dalam melakukan hal yang serupa dengan tujuan yang sama. Persaingan akan terjadi apabila beberapa pihak mengharapkan sesuatu hal dengan jumlah yang tidak terbatas ataupun menjadi pusat perhatian umum. Seperti misalnya puluhan siswa SMA bersaing untuk meraih piala Gubernur dalam ajang Cerdas Cermat, dua orang lelaki yang berjuang dan saling bersaing untuk mendapatkan wanita yang sama, dan semisalnya.

2) Kontravensi

Kontravensi merupakan adalah sebuah pertentangan ataupun konflik yang terjadi antara individu ataupun kelompok namun tanpa disertai adanya konflik terbuka. Konflik semacam ini terjadi dan dirasakan antar kedua individu ataupun kelompok, namun tidak dilakukan secara anarkis.

3) Pertikaian

Pertikaian merupakan sebuah proses sosial sebagai bentuk lanjutan dari adanya kontavensi. Di dalam konflik ini, perselisihan terjadi secara terbuka dan terang-terangan. Pertikaian terjadi karena adanya perselisihan yang semakin meruncing antar kelompok di dalam masyarakat. Kondisi ini terus memuncak sampai akhirnya berujung pada upaya refresif.

4) Pertentangan

Pertentangan adalah sebuah upaya dalam memenuhi tujuan utama dari individu ataupun kelompok dengan menentang pihak yang berseberangan. Konflik pertentangan sangat mungkin untuk disertai dengan adanya kekerasan. Pertentangan dapat bersumber dari adanya perbedaan pendapat, kebudayaan, perasaan individu, kepentingan baik secara individu ataupun kelompok, ataupun perubahan sosial yang terjadi bergitu cepat yang selanjutnya memunculkan disorganisasi sosial. Perbedaan tersebut sangat berpotensi menjadi pertentangan yang demikian besar sehingga mengakibakan tindakan refresif yang lebih jauh. Meskipun demikian, pertentangan tidaklah selalu berstigma negatif. Pertentangan dapat menjadi sarana untuk menyesuaikan norma-norma yang telah ada sesuai dengan perkembangan peradaban masyarakat. pertentangan juga dapat melahirkan sebuah koalisi ataupun kerja sama karena memiliki nasib yang sama dan musuh bersama.